bisnis internet
bisnis online

Image Widget

Image Widget

PUSKESMAS SIDAMULIH

Separat existentie 2010 Unee MYT por scientie, musica, sport etc, litot Europa usa li sam Vocabular Lingues, differe solmen in li grammatica, li pronunciation. Delete this widget in Dashboard and add yours. This is just an example. Read More

Cari Blog Ini

KUSTA

Rabu, 18 Agustus 2010

KUSTA
KUSTA (LEPRA)
Kusta pertama kali di ketahui dari abad ke 6 melalui tulisan orang Indian. Penyakit ini merupakan penyakit kronis yang tidak membahayakan nyawa tetapi merusak sistem kulit, saraf, pernafasan, mata dan testis. Perjalanan penyakit ditandai dengan hilangnya anggota gerak apabila penyakit tidak di terapi secara baik.

ETIOLOGI
Myobacterium leprae merupakan penyebab dari penyakit ini. Merupakan satu famili dengan M. tuberculosis penyebab TBC. Memiliki sifat obligat intraseluler dan tahan asam, pada beberapa jenis telah mengalami perubahan dari sifat akibat perubahan gen yang menyebabkan bakteri dapat bertahan di lingkungan selama beberapa bulan. Pada penderita yang tidak dilakukan terapi dengan baik akan terjadi peningkatan angka bakteri di kulit (MI), dan ketebalan bakteri di kulit (BI) hingga 6 kali lipat dibandingkan dengan terapi efektif.
Bakteri lepra merupakan salah satu bakteri yang hanya tumbuh dan berkembang pada manusia saja. Walaupun demikian bakteri ini masih belum dapat di biakan karena sulitnya mencari media yang cocok, media yang paling baik sampai saat ini adalah telapak kaki tikus. Bakteri lepra akan berkembang biak dengan baik pada jaringan yang lembab (kulit, saraf perifer, ruang depan mata, saluran nafas bagian atas, dan testis), dan pada daerah yang lebih hangat dari tubuh (ketiak, lipat paha, kepala, dan pertengahan punggung).

EPIDEMIOLOGI
Penyakit lepra merupakan penyakit yang menyebar hampir di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, dengan insidensi paling banyak berada di Afrika. Peningkatan penyakit yang tiba-tiba biasanya bersifat tidak merata, dimana di satu daerah memiliki insidensi yang tinggi dan pada daerah tetangganya memiliki insidensi yang kecil.
Penyakit lepra berhubungan dengan kemiskinan dan pedesaan. Penyakit ini tidak berhubungan dengan HIV-AIDS karena memiliki angka inkubasi yang panjang. Angka insidensi terjadi paling tinggi pada dekade 2 dan 3, yang paling sedikit angka insidensinya pada wanita dan anak-anak.

TRANSMISI
Tranmisi lepra masih belum dapat dijelaskan dengan baik, tetapi sampai sekarang masih dipercaya bahwa penularan melalui infeksi lendir hidung yang menginfeksi secara langsung, atau melalui tanah yang subur, seperti di India insidensi paling sering pada perkotaan dari pada desa. Hal ini terbukti bahwa bakteri lepra terdapat pada tanah di daerah yang endemik lepra tinggi. Inokulasi pada kulit yang pecah dapat menular secara langsung, dengan lokasi yang paling sering pada anak-anak di bokong dan lipat paha.
Penelitian lain masih memperkirakan penularan melalui serangga seperti nyamuk, karena pada daerah endemis diketahui bahwa darah yang terdapat dalam nyamuk mengandung lepra.

PERJALANAN HIDUP
Masa inkubasi lepra bervariasi dari 2 minggu sampai 4 tahun, walaupun secara umum durasi sepanjang 5 – 7 tahun. Manifestasi lepra sangat bervariasi bergantung terhadap penyebaran bakteri dan gejala yang timbul pada kulit dan sistem persarafan.
Tuberculoid Leprosy
Merupakan bentuk yang tidak berat. Secara umum bahwa gejala yang timbul hanya pada kulit dan saraf permukaan. Kulit yang mengalami gangguan berbentuk makula hipopigmentasi satu atau beberap buah yang jelas terlihat, pada batas dengan kulit yang sehat tampak penebalan, dan tidak adanya organ kulit (rambut, kelenjar keringat) sehingga kulit menjadi kering, dan bersisik. Terjadi pembengkakan dari saraf perifer yang dapat terjadi pada setiap saraf dan menimbulkan kebas pada bagian yang tersarafinya. Walalupun demikian persarafan yang paling berpengaruh bila terkena pada saraf ulnaris, posterior auricula, peroneal, posterior tibial yang akan menimbulkan hipestesi (indra perabaan berkurang) dan myotomi (otot yang dipersarafi menjadi kecil). Jenis lepra ini paling sering terjadi di India dan Afrika.

Pada tuberkuloid lepra, sel T mencapai perineurium dan menghancurkan sel Schwan dan axon yang menyebabkan kerusakan sistem saraf. Hal ini disebabkan sistem pertahanan tubuh sudah mengenali M.leprae sebagai benda asing yang berbahaya sehingga harus dihancurkan, tetapi karena posisi bakteri tersebut di sekitar saraf menyebabkan penghancuran terjadi pada saraf pula.
Lepromatous Leprosy
Merupakan salah satu bentuk lepra dengan ciri khas kelainan kulit yang simetris berupa nodul, plak yang timbul, atau infiltrasi kulit yang luas. Apabila kelainan ini terjadi pada kulit akan menimbulkan leonine facies. Manifestasi lambatnya berupa kehilangan alis mata (biasanya pada bagian luarnya saja), bulu mata, bagian telinga bawah, kulit kaki yang kering. Pada kelainan ini bakteri terdapat dibawah kulit yang ditemukan dibawah benjolan kulit, saraf permukaan, yang menyebabkan kerusakan saraf. Selain itu bakteri menyebar di seluruh tubuh menyebabkan pasien dalam kondisi demam. Kerusakan saraf terjadi secara simetris dan menyebabkan gangguan pergerakan dan perabaan dari anggota gerak.


KOMPLIKASI
Anggota gerak
Merupakan akibat dari kerusakan saraf, yang menyebabkan tidak sensitif dan myopati. Tidak sensitif mempengarui rangsang raba, nyeri dan panas. Yang paling sering terkena adalah saraf ulna yang mengakibatkan jari ke 4 dan 5 seperti cakar akibat kehilangan fungsi otot untuk mengangkat pergelangan tangan dan juga kemampuan untuk meraba. Infeksi lepra ke saraf medianus menyebabkan ketidak mampuan untuk menggerakan jempol dan mengenggam. Apabila gangguan mengenai saraf radialis juga maka akan terjadi wrist drop atau pergelangan tangan yang jatuh.
Kehilangan indra perasa pada tangan dan kaki dapat menyebabkan luka, dan apabila tidak dirawat dengan baik luka akan membesar dan bertambah dalam, pada akhirnya jari akan mengalami kematian dan terlepas tanpa penderita merasa nyeri.
Hidung
Infeksi mikrobakteri ke mukosa hidung dapat menyebabkan pembengkakan dan perdarahan hidung yang terus menerus. Tanpa pengobatan yang baik infeksi akan menjalar dan merusak tulang rawan hidung dan penderita akan kehilangan hidungnya.
Mata
Infeksi pada mata tidak hanya terjadi pada mata sendiri yang mengakibatkan kekeruhan dari cairan mata dan gangguan penglihatan, tetapi kerusakan dapat juga terjadi pada saraf-saraf penghlihatan mata yang mengakibatkan penglihatan akan berkurang dan juga pada saraf otot-otot penggerak bola mata yang menyebabkan gangguan koordinasi penglihatan kedua mata. Dari pemeriksaan mata bagian dalam akan tampak perdarahan pada bagian mata penerima cahaya.
Testis
Infeksi lepra dapat terjadi pada testis dan menyebabkan infeksi dari saluran testis dan apabila tidak diterapi dengan baik akan menyebabkan kerusakan permanen dari saluran dan penghasil sperma sehingga penderita akan steril.
Abses Saraf
Pada beberapa kondisi infeksi lepra di saraf tidak saja menyebabkan kerusakan dari sistem saraf, tetapi menyebabkan abses (bisul) di sekitar saraf, dengan gambaran benjolan kemerahan, panas dan terasa nyeri.


DIAGNOSIS
Penyakit lepra memiliki karakteristik secara makro atau histopatologis pada kulit. Kecurigaan pada seoran g penderita pada daerah endemik dengan kelainan pada kulit dan gangguan indra perabaan. Diagnosis paling baik ditegakkan melalui biopsi dari kulit yang mengalami kelainan, dan secara mikroskopis ditemukan kuman lepra. Secara pemeriksaan serologis belum didapatkan pemeriksaan yang secara tepat dapat mengetahui adanya lepra.
Diagnosis lepra dapat di diagnosa bandingkan dengan sarkoidosis, leismaniasis, lupus vulgaris, limfoma, sifilis, granuloma, dan kelainan lain yang menyebabkan kehilangan pigmentasi kulit.


PENATALAKSANAAN
Berdasarkan rekomendasi WHO penggunaan Dapson sebagai antibiotik dan atau rifampisin masih dipergunakan tetapi penggunaannya harus bersifat individual. Selain itu terapi terhadap simptomatik (demam, nyeri) bersifat sangat individual, sehingga diperlukan disiplin ilmu yang tinggi untuk pengobatan lepra ini.

PENCEGAHAN
Pemberian vaksin BCG (bacille Calmette Guĕrin) telah terbukti efektif untuk mencegah lepra hingga 80%. Selain itu pada tahun 1992 WHO telah mencanangkan penggunaan pengobatan gabungan untuk menghilangkan mikrobakterium lepra sehingga dunia bebas lepra pada tahun 2000.

0 komentar:

Posting Komentar

 

java scrip